Selasa, 01 Juli 2008

BEBERAPA TEHKNIK PEMBENIHAN



PEMBENIHAN DAN PEMBESARAN IKAN NILA (Oreochromis niloticus)

1. Pendahuluan


Ikan nila di Indonesia merupakan ikan ekonomis penting di dunia karena cara budidaya yang mudah, rasa yang digemari, harga relatif terjangkau dan memiliki toleransi yang luas terhadap lingkungan. Dewasa ini, ikan nila dipelihara secara komersial berbagai belahan dunia baik di kolam atau kantung jaring apung (KJA) di air payau maupun air tawar serta perairan pantai. Disebabkan oleh minat masyarakat yang semakin meningkat terhadap ikan nila, ikan ini menjadi komoditi yang menarik, baik usaha budidaya skala besar maupun skala kecil.
Di Indonesia, ikan nila merupakan jenis ikan introduksi yang didatangkan ke Bogor pada tahun 1969 dari Taiwan (Jangkaru dkk, 1991). Nama nila ditetapkan oleh Direktur Jenderal Perikanan tahun 1972, diambil dari nama spesies ikan ini yaitu niloticus menjadi nila. Sejak nila di introduksi ke Indonesia pada tahun 1969, perkembangan budidayanya di masyarakat cukup pesat. Sekarang jenis ikan ini sudah dibudidayakan di 32 provinsi di Indonesia (Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya, 2006). Produksi nila pada tahun 1996 tercatat sebesar 25 668 ton dan menjadi 148 249 ton pada tahun 2005. Dengan demikian telah terjadi peningkatan sebesar 578% dalam kurun waktu 9 tahun (Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya, 2006). Terlebih lagi dengan adanya kasus KHV (koi herpes virus) pada ikan mas, nila menjadi alternatif ikan air tawar yang dibudidayakan masyarakat dan menjadi salah satu andalan dalam program revitalisasi perikanan.
Di pasar international Amerika Utara (Amerika Serikat dan Canada) dan Eropa, nila dari tahun ketahun konsumsinya semakin meningkat (Fish Farming Intl., 2005; 2006). Amerika Utara mengimpor 112 945 ton pada tahun 2004, meningkat 25% dari tahun 2003 atau 68% lebih tinggi dibandingkan tahun 2002. Dimana nilai impornya juga meningkat sampai $ 297 juta tahub 2004, 23% lebih tinggi dari tahun 2003 dan 71% dari tahun 2002 (Fish Farming Intl., 2005). Setengah dari impor Amerika Utara dipasok oleh China, sedangkan sisanya oleh Taiwan, Thailand, dan Indonesia. USDA (US Department of Agriculture) memberikan dukungan agar ketiga negara pengimpor utama dapat mengambil alih porsi impor yang dikuasai oleh China. Hal ini merupakan peluang yang harus disikapi secara positif. Patut diperhitungkan bahwa budidaya ikan nila telah mulai menarik perhatian negara-negara Amerika Selatan yang dapat menjadi pesaing handal karena transportasi yang lebih murah. Oleh karena itu penting sekali diupayakan budidaya yang efisien.
Upaya peningkatan produksi ikan nila terus dilakukan dengan berbagai cara seperti mendatangkan beberapa strain unggul baru dari luar, perbaikkan teknologi perbenihan dan budidaya, serta perbaikkan genetik. Contoh-contoh strain yang telah didatangkan dari luar, khusus nila berwarna hitam adalah dari Thailand tahun 1989 (Chitralada), Filipina tahun 1994 dan 1997 (GIFT). Sedangkan jenis warna merah didatangkan dari Thailand tahun 1989 (NIFI). Perbaikkan perbenihan dan budidaya dilakukan dengan menggunakan teknologi maju, seperti penggunaan corong penetasan untuk perbenihan dan resirkulasi pada budidaya sistem tertutup, serta rekayasa wadah budidaya yang semakin maju. Untuk upaya perbaikkan genetik antara lain dilakukan dengan menghasilkan jenis nila “monosex”, rekayasa genetik, dan seleksi secara konvensional untuk menghasilkan strain ikan nila dengan tampilan yang spesifik (Wardoyo, 2005; Gustiano, 2007).
Berdasarkan latar belakang di atas dapat dikemukakan arti penting nila bagi budidaya air tawar dan dukungan pengembangan teknologi budidaya dan perbaikan mutu genetik nila untuk meningkatkan produksi dan produktivitas di masa mendatang. Dengan tujuan untuk menyebarkan luaskan informasi teknologi pengelolaan induk dan pembesaran ikan nila, makalah ini disajikan.

2. Morphologi dan tanda-tanda khusus

Ikan nila mempunyai bentuk tubuh memanjang dan ramping dengan rasio perbandingan 3 : 1 antara panjang total dengan tinggi badan. Sedangkan pada ikan mujair (Oreochromis mossambicus) rasio tersebut adalah 2: 1. Tubuh ditutupi Sisik berukuran besar dan kasar dengan gurat sisi terputus di bagian tengah badan kemudian berlanjut dengan letak lebih rendah. Ikan ini memiliki lebar dan panjang batang ekor dengan ukuran yang sama (Gambar 1). Jari-jari keras sirip punggung dan jari-jari lemah berhubungan. Sirip punggung memiliki 16 – 18 jari-jari keras dan 11 – 15 jari-jari lemah. Pada sirip dubur terdapat 3 jari-jari keras dan 9 – 11 jari-jari lemah. Jumlah tulang belakang ikan ini berkisar antara 30 – 32. Sirip ekor berbentuk agak membulat. Warna pada musim pemijahan menunjukkan sirip dada, punggung dan ekor akan menjadi agak kemerahan. Pada sirip ekor akan nampak 7 – 12 garis tegak berwarna hitam. Bagian luar sirip punggung berwarna abu atau hitam. Rahang dari ikan jantan dewasa agak membesar (panjang dari rahang bawah berkisar antara 29 – 37% dari panjang kepala). Sedangkan pada betina berbentuk agak meruncing.





Gambar 1. Ikan nila dilihat dari samping






Ikan jantan dan betina dewasa dapat dibedakan dengan melihat beberapa ciri-ciri yang tidak sama. Pada ikan jantan dewasa, alat kelamin berupa tonjolan yang agak meruncing. Sedangkan betina berbentuk lubang genital (Gambar 2). Sisik di bawah dagu ikan jantan berwarna gelap dan pada betina berwarna putih/cerah.


Gambar 2. Alat kelamin ikan nila jantan (atas) dan betina (bawah)











3. Pemijahan dan Pembenihan

Ikan nila dapat berkembang biak sepanjang tahun secara alamiah di daerah tropis. Frekuensi pemijahan terbanyak terjadi pada musim hujan. Kematangan telur di kolam dapat dicapai umur 5 – 6 bulan. Proses pemijahan dimulai dengan pembuatan sarang oleh ikan jantan berupa lekukan berbentuk bulat dengan diameter sebanding seukuran tubuhnya di dasar perairan dalam daerah teritorial. Ikan betina yang siap memijah akan mengeluarkan telur di lubang yang telah dipersiapkan oleh jantan dan telur-telur tersebut akan dibuahi oleh ikan jantan. Setelah telur dibuahi, telur tersebut akan dikumpulkan oleh ikan betina dan dierami di dalam mulut sampai menetas. Lama pengeraman di dalam mulut berkisar antara 1 – 2 minggu tergantung suhu air tempat dilakukannya pemijahan. Setelah larva dilepas oleh induk betina, larva-larva tersebut akan kembali ke dalam mulut induk betina apabila ada bahaya yang mengancam.
Konsekuensi alami dari penjagaan induk betina dalam mulut adalah jumlah telur yang sedikit setiap pemijahan dibandingkan dengan ikan-ikan air tawar lainnya. Secara umum jumlah telur yang dihasilkan oleh induk betina sebanding dengan berat tubuhnya. Untuk induk betina ukuran 100 gram akan menghasilkan telur kurang lebih 100 butir setiap pemijahan. Sedangkan untuk induk betina dengan berat berkisar antara 600 – 1000 gram akan menghasilkan 1000 sampai 1500 telur. Pada waktu dipijahkan, ikan jantan dapat berpasangan dengan lebih dai satu ikan betina. Ikan nila dapat hidup lama hingga mencapai umur 10 tahun dan dapat mencapai ukuran hingga lebih dari 5 kg.
Ilustrasi pemijahan pada ikan nila dapat dilihat pada gambar 3. Dari gambar dapat dilihat bahwa masa inkubasi, penetasan hingga penyerapan kuning telur dapat dilakukan dengan beberapa cara. Yang kerap dilakukan adalah pertama dengan membiarkan induk betina melakukan pengeraman trelur hingga menetas dan memeliharan larva sampai kuning telur terserap habis di dalam mulut. Pemanenan hasil penetasan dilakukan setelah larva berenang bebas dan tidak dijaga lagi oleh induk betina. Kemudian pemeliharaan larva dapat dilakukan di dalam kolam, bak-bak atau hapa yang diletakkan di dalam kolam atau perairan umum.



Gambar 3. Pemijahan, pembenihan dan pembesaran ikan nila


Teknik yang kedua adalah dengan melakukan pemanenan telur yaitu dengan cara memeriksa induk-induk betina yang sedang mengerami telur di dalam mulut dan mengoleksi telur-telur tersebut untuk diinkubasikan, serta ditetaskan di dalam wadah yang telah disiapkan




Gambar 4. Pemeriksaan dan pemanenan telur dari dalam mulut induk betina
Umumnya induk betina yang sedang mengerami telur akan terlihat memiliki mulut yang mengembung dan lebih agresif menyerang ikan lainnya yang mendekatinya. Wadah dapat berupa akuarium/wadah yang dilengkapi aerasi untuk memberikan oksigen yang cukup bagi telur yang dapat meningkatkan keberhasilan penetasan.

Tahapan perkembangan telur yang telah dibuahi hingga larva habis kuning telur dapat dilihat pada gambar 5 di bawah ini.
Gambar 5. Tahapan perkembangan telur sampai menjadi larva ikan nila


Untuk mendapatkan kuantitas dan kualitas yang diinginkan dalam pelaksanaan pembenihan, diperlukan teknik dan prosedur pembenihan yang tepat dan pemenuhan kelengkapan sarana dan prasarana. Teknik dan prosedur yang diperlukan adalah penyediaan induk, perawatan induk, pemijahan, perawatan larva atau benih, penyediaan pakan, padat penebaran, kualitas air serta penanggulangan hama dan penyakit yang dilakukan secara terencana dan cermat.



1) Pemijahan

a. Induk

Dalam usaha pembenihan, jumlah induk yang harus disediakan harus sesuai dengan rencana kapasitas produksi benih berdasarkan skala usaha yang akan dilakukan. Persediaan induk jantan dan betina adalah dengan perbandingan 1:3 atau 1:4 (1 ekor induk jantan berbanding 3 atau 4 ekor induk betina). Selama pemeliharaan atau pematangan gonad, calon induk maupun induk jantan dan betina dipelihara secara terpisah.
Calon induk yang dipergunakan harus bermutu baik, baik secara genotip maupun penotip agar menghasilkan keturunan yang baik juga. Induk jantan dan betina yang akan digunakan berasal dari keturunan yang berbeda dan tidak sekerabat. Calon induk yang baik mempunyai ciri-ciri antara lain adalah bentuk tubuh proporsional, sisik besar dan teratur, warna tubuh cerah dan merata. Induk betina yang baik umumnya dapat menghasilkan telur dengan diameter yang lebih besar. Ukuran induk pertama kali dipijahkan sebaiknya berukuran sekitar 250 - 300 gram untuk induk betina dan 30 - 400 gram untuk induk jantan.

b. Perawatan Induk

Calon induk atau induk selama pemeliharaan harus diberi pakan yang bermutu tinggi dengan jumlah yang cukup agar sehat dan dapat menghasilkan telur dengan kualitas yang baik. Pakan yang digunakan sebaiknya memiliki kandungan protein sekitar 30% dengan frekuensi pemberian 3 akali sehari, yaitu pagi, siang dan sore hari. Padat penebaran selama pemeliharaan dilkaukan diusakan tidak terlalu padat, yaitu sekitar 2-5 ekor per meter persegi untuk di kolam dan 4-6 ekor per meter persegi untuk pemeliharaan di jaring apung.
Induk yang telah matang gonad biasanya mempunya ciri-ciri khusus yang dapat dilihat secara mudah. Induk nila jantan yang telah matang gonad biasanya mempunyai warna badan yang hitam, bagian dagu putih, alat kelamin meruncing dengan warna putih bersih dan ujung sirip ekor dan sirip punggung berwarna merah cerah. Sedangkan pada induk betina yang telah matang gonad memiliki ciri-ciri antara lain warna badan hitam, bagian dagu putih, alat kelamin membulat dan berwarna kemerahan, serta perut membuncit.

c. Pemasanga induk jantan dan betina (pemijahan)

Secara teoritis, ikan nila dapat dipijahkan secara lami, semi buatan dan buatan. Pemijahan secara alami adalah pemijahan secara alamiah dalam wadah/tempat pemijahan tanpa dilakukan pemberian rangsangan hormonal. Pemijahan semi buatan adalah pemijahan dengan proses rangsangan hormobnal akan tetapi proses ovolasinya terjadi secara alamiah dalam wadah/tempat pemiajahan. Pemiajahan buatan terjadi dengan pemberian rangsangan hormonal dan proses ovulasi dan pembuahannya dilakukan secara buatan. Pemijahan ikan nila untuk tujuan produksi sebaiknya dilakukan secara alami dan semi buatan, hal ini dikarenakan secara biologi pemijahan dan penetasan telur ikan nila lebih memungkinkan dilakukan secara alamiah.
Pada pemijahan secara alamiah, pemijahan dilakukan dengan cara memasangkan induk jantan dengan betina dengan perbandingan 1:3, kepadatan induk adalah 1-2 ekor induk betina per meter persegi dengan kedalam kolam sekitar 50cm. Untuk merangsang terjadinya pemijahan sebaiknya dilakuakn manipulasi lingkungan yaitu dengan cara pengeringan kolam, pengaliran air baru ke dalam kolam dan pemberian lumpur berpasir pada dasar kolam yang digunakan agar induk mudah dalam membuat sarang. Ciri telah terjadi pemijahan adalah terbentuknya lekukan-lekukan berbentuk bulat didasar kolam dengan diameter 30-50 cm. Lamanya pemijahan sampai benih lepas dari perawatan induk adalah sekitar 14 hari.

d. Perawatan Larva

Dalam pemeliharaan larva harus disesuaikan dengan tujuan, metode, jenis lahan serta ukuran lahan yang digunakan. Tujuan pemeliharaan larva dapat dibedakan menjadi pemeliharaan untuk tujuan memperoleh benih jantan atau memperoleh benih campur kelamin. Untuk memperoleh benih jantan saja dapat dilakukan dengan pemberian pakan yang mengandung hormon dengan dosis dan lama pemberian tertentu, sedangkan untuk menghasilkan benih campur kelamin dilakukan pemeliharaan tanpa perlakuan.
- Pemeliharaan larva untuk tujuan campur kelamin
Pemeliharaan benih dalam lingkungan yang telah dipersiapkan secara cermat dapat menghasilkan benih dengan pertumbuhan dan kelangsungan hidup yang lebih baik. Untuk pemelihaaan benih dapat digunakan kolam yang telah dipersiapkan dengan pembersihan dan pemupukkan. Larva dapat ditebarkan langsung atau dipelihara dalam hapa yang dipasang dalam kolam tersebut. Pada usaha perbenihan yang intensif, pemeliharaan larva dilakukan dalam panti benih (hatchery) yang memiliki unit produksi pakan alami untuk kebutuhan pakan larva.
Pada pemeliharaan di kolam, kolam sebaiknya berukuran tidak terlalu luas yaitu dengan ukuran antara 100-200 m2 dengan kedalaman 30 – 40 cm, luasan kolam yang kecil diperlukan untuk memudahkan dalam perawatan dan pengawasan benih. Kolam terlebih dahulu dibersihkan dari adanya ikan liar lainnya maupun sumber penyakit yang ada, dengan cara dilakukan pengeringan total selama 3-7 hari. Kolam kemudian dipupuk dengan pupuk kandang dengan dosis 200-300 gram/m2. Kolam kemudian dialirkan air yang telah disaring terlebih dahulu agar ikan liar tidak ikut masuk ke dalam kolam. Untuk masa pemeliharaan selam 4 minggu atau sampai mencapai ukuran sekitar 3 cm, penebaran larva dapat ditebar sebanyak 100-200 ekor larva per meter persegi.
Selain dari pakan alami yang telah ada di dalam kolam, dilakukan tambahan pemberian pakan dari luar berupa pakan buatan. Jenis pakan haruslah pakan yang baik dengan kandungan protein yang tinggi dengan ukuran diameter butit pakan disesuaikan dengan bukaan mulut larva/benih. Jumlah pakan yang diberikan dengan prosentase adalah sekitar 10-20 % dari bobot biomasa ikan dengan frekuensi pemberian sekitar 5 kali sehari.
- Pemeliharaan larva untuk tujuan kelamin jantan (sex reversal)
Untuk mengasilkan ikan nila jantan dilakukan dengan cara pengalihan kelamin ikan betina menjadi ikan nila penotip jantan menggunakan hormon pengalih kelamin. Hormon yang sering digunakan adalah 17-α methyltestosterone (MT) dengan metode yang sering digunakan adalah secara oral melalui pakan. Tahapan yang dilakukan adalah sebagai berikut;

- Pembuatan pakan berhormon, dengan cara mencapurkan sebanyak 60 mg MT ke dalam alkohol 95-100% sebanyak 200 ml. Kemudian dicampurkan ke dalam 1 (satu) kilogram pakan protein 40% secara merata. Pakan kemudian dikering anginkan tanpa matahari atau pemanasan. Kandungan yang ada dalam MT akan berkurang atau tidak berfungsi apabila terkena matahari langsung maupun pemanasan. Stok pakan yang sudah ada harus terhindar dari matahari langsung maupun tempat yang panas..

- Benih yang digunakan berukuran harus kurang dari 9 mm supaya efektif beralih kelamin.

- Kepadatan benih sekitar 3000 – 4000 ekor per m3 dalam hapa atau bak.

- Pemberian pakan sebesar 20-30% bobot biomasa per hari menurun sampai 10-20% per hari. Diberikan dengan frekuensi pemberian 5 kali sehari. Pakan yang diberikan diusahakan semaksimal mungkin tidak banyak terbuang atau tidak dimakan oleh ikan.

- Masa pemeliharaan selama 3 – 4 minggu. Berat ikan akhir pemeliharaan 0.2 – 0.4 gram per ekor
- Keberhasilan pengalihan kelamin sebesar 95-100%, sangat tergantung dari intensitas pemeliharaan.


e. Perawatan Benih

Selepas pemeliharaan larva, benih ukuran jari (fingerling) dapat dilakukan pemeliharaan lanjutan untuk menghasilkan benih ukuran 30-40 gram. Persiapan kolam sama dengan dengan persiapan pada pemeliharaan larva dengan luasan ukuran kolam dapat lebih luas dari kolam pemeliharaan larva (400-500m2). Untuk mencapai ukuran 30-40 gram dapat dicapai dengan pemeliharaan selam 2-3 bulan masa pemeliharaan. Padat tebar awal antara 25-30 ekor/m2 . Jumlah pakan yang diberikan disesuaikan dengan ukuran tahapan ikan yang dipelihara. Prosentase pemberian pakan pada awal pemeliharaan berkisar antara 8-15% per hari per bobot biomasa, menurun sampai akhir pemeliharaan sebesar 4-9% per hari. Biomasa akhir dapat mencapai sekitar 6000 kg/ha.
Pada pemeliharaan di jarring, dengan menggunakan jarring ukuran kecil (kurang dari 4 m3) dapat ditebar ikan dengan jumlah sekitar 3000 ekor ikan /m3 , setelah dipelihara selama sekitar 6 minggu dihasilkan ikan dengan ukuran rata-rata sekitar 10 gram. Ikan tersebut kemudian ditebar kembali dengan kepadatan 2500 ekor ikan /m3 untuk menghasilkan ukuran 25-30 gram dalam waktu sekitar 4 minggu Untuk menghasilkan ikan dengan ukuran 50-60 gram, ikan ukuran 25-30 gram yang sebelumnya telah dipelihara dapat ditebarkan kembali di jaring dengan kepadatan 1500 ekor ikan /m3 selama masa pemeliharaan sekitar 4 minggu. Pada pemeliharaan dengan sistem resirkulasi, dapat dilakukan penebaran dengan kepadatan sekitar 1000 ekor ikan /m3 untuk menghasilkan ukuran sekitar 50 gram dengan masa pemeliharaan sekitar 3 bulan.

5. Penutup

Makalah ini merupakan ringkasan pokok-pokok pada usaha perbenihan dan pembesaran ikan nila yang digunakan pada pelatihan teknis. Detail pelaksanaan teknis dan aplikasi praktis perbenihan dan pembesaran akan disampaikan pada pelaksanaan pelatihan. Demikian makalah ini dipersiapkan untuk dapat memberikan gambaran secara menyeluruh usaha perbenihan dan pembesaran yang diharapkan dapat mempermudah pemberian pelatihan teknis secara mendetail dan rinci.